First Impression Challenge di Sekolah (Part 1)
Setelah menghabiskan seminggu libur, akhirnya hari ini sudah
tiba. Hari pertama masuk sekolah. Berbeda,karena saya adalah guru baru di sini.
Dan kebetulan, saya langsung dapat jatah piket: menyambut murid, mengucapkan
selamat pagi.
Sekolah kami berada di puncak. Dan karenanya, butuh
perjuangan untuk sampai ke sini. Bagai menggapai mimpi. Anak-anak mulai
terlihat. Semangat? Tidak!!!
Mereka terlihat lesu. Langkahnya lemas. Apalagi, letak
sekolah dengan jalan yang menanjak.
Tapi tetap mereka datang. Beberapa anak sepertinya berfikir
siapakah orang asing itu? *aku* Beberapa anak yang lain biasa saja. Tapi tetap
menatapku agak lama.
Sampailah saya masuk kelas.
Saya ingat kata dosen saya, Pak Joko (Alm) kalau beliau
sangat suka mengajar anak SMP, terutama kelas tujuh. Karakter anak-anak yang belum
hilang dan rasa tidak mau mereka dibilang anak kecil selalu menarik untuk
dihadapi. And.. I face it now!!!
Suara kalah keras, badan kalah tinggi. Duh.
Pertama masuk, keasingan menyergap. They don’t know me, and I
don’t know them. Jadilah, kita kenalan. Saya minta mereka menulis nama mereka
di sebuah kertas dengan ciri-ciri yang ada di diri mereka. Boleh, ciri fisik,
kebiasaan, apapun yang mempermudah saya mengenal mereka. Saya tidak hanya ingin
mengenal mereka sebatas nama.
Sekolah ini menerapkan Multiple Intelligent dalam
pembelajarannya. Setiap hari harus ada lesson plan yang dibuat. Berusaha sabar,
menciptakan unity in diversity. Hihi.
Yah, kayak dream comes true lah ya. Dulu belajar teorinya
Howard Gardner dan sekarang try to apply it. Terus dulu baca bukunya Munif
Chatib dan sekarang I do make the lesson plan. Lucu kan yaaa..
Saya kemudian di kelas mencoba untuk menghidupkan suasana. Saya
ajak mereka main-main. Ini sudah pernah saya coba waktu di kelas di kampus
dulu. Dan…. (bersambung part 2)
Komentar
Posting Komentar