Bahagianyaaa Bisa Membuat Mereka Tertawa
Cerita ini dimulai dari kegalauan yang mendalam karena saya
harus memutar otak untuk membuat alfa zone –yang ke sekian kali-. Awalnya,
sebagai guru baru di SMp, sekaligus habis ngajar TK tahunan, saya rasa bikin alfa
zone is an easy thing. Oh iya, alfa zone
itu adalah kegiatan awal yang dilakukan oleh guru sebagai bentuk persiapan
kondisi psikologis siswa supaya siap menerima materi pelajaran. Bisa berbentuk
penayangan video, gambar, cerita, atau games. Nah, awal-awalnya saya lumayan
berhasil membuat alfa zone kemudian menerapkannya di anak-anak. Saya
menayangkan video, vlog, lagu, bercerita lucu, and trying to do a stand up
comedy (walaupun gagal, hihi.. yang tau saya pasti ngerti kenapa gagal :p)
Lebih lanjut, begini ceritanya.
Alfa Zone 1: Video
Saya
berusaha menstimulus indra anak-anak sebelum masuk ke materi pelajaran. Karenanya,
di alfa zone, saya memperlihatkan video yang sesuai dengan materi sekaligus
video menarik yang membuat rasa ingin tau mereka tergugah. Kemarin, ketika
materi tentang rumah, saya perlihatkan video tentang rumah unik beserta
bagiannya yang tidak biasa. Mereka antusias menyaksikan. Sayangnya, ketika saya
rasa cukup di alfa zone dan harus melanjutkan ke scene setting (part berikutnya
dari lesson plan yang saya buat) mereka merasa belum cukup dan nagih untuk
melihat video yang lain. L
Sekali, saya turuti dong, kemudian tambah lagi, dan lagi. Sudah Nak, stop,
besok lagi. Lalu mereka kayak cemberut gitu. Duh.
Jadi,
saya pikir untuk membuat alfa zone yang lain. Bukan video.
Alfa Zone 2: Nyanyi
Sampailah
saya pada hari di mana harus masuk kelas. Saya sudah siap dengan lagu, speaker,
dan teks lirik lagu, untuk memudahkan anak-anak. Seperti biasa, setelah salam,
dan saling sapa dengan bahasa Arab, serta doa pembuka belajar, saya persiapkan
kelas untuk mendengarkan lagu sembari menyimak lirik lagu. Saya juga sudah
siapkan versi karaokenya supaya anak-anak setelah mendengar lagunya dapat
berkaraoke ria.
Kelas
tenang ketika lagu saya putar, sampai kepada saya putarkan music yang versi
karaoke kemudian saya minta anak-anak untuk menyanyi. Lagunya saya pilih lagu
Arab yang sudah familiar di telinga mereka. Sedihnya, mereka menyanyi dengan
ragu-ragu. Suaranya mereka tertahan malu sehingga saya yang akhirnya
teriak-teriak supaya kelas terasa semarak. Dengan suara yang lebih merdu untuk
dipakai melagu di kamar mandi. Hihi.
Dan,
sedihnya lagi, anak-anak request lagu juga. Kalau yang mereka request lagu yang
sesuai dengan pelajaran –minimal berbahsa Arab- atau lagu kekinian yang sesuai
dengan usia mereka, atau yang berlirik penuh semangat sehingga bisa menerbitkan
motivasi belajar bagi mereka, dengan hati akan memutarkan. Lha anak-anak
requestnya saja lagu dangdut berbahasa jawa yang judulnya sudah bikin kuping
saya gatel, apalagi liriknya (saya kepoin lagu-lagu dangdut mereka di luar
kelas. Biar nggak kudet aja. Ternyata oh ternyata..)
Alfa Zone 3: Cerita
Sebagai
mantan guru TK, bercerita bukan hal sulit bagi saja *tsah hihi, apalagi saya
juga pernah beberapa kali mengikuti pelatihan mendongeng. Jadi, saya putuskan
untuk bercerita. Karena waktu itu materi pelajaran tentang alamat, maka saya bercerita tentang alamat
tempat-tempat terkenal di beberapa Negara, seperti Singapura , New York,
Indonesia, dan Semarang. Bukan hanya mengenai alamatnya, tapi juga tentang
kendaraan yang digunakan, biaya perjalanan, dan seperti apa tempat yang
alamatnya saya ceritakan itu.
Sayangnya, anak-anak tidak fokus dengan alamat yang saya
jadikan tema utama di cerita ini, tapi justeru fokus ke deskripsi tempat
beserta ke-horor-an tempat yang saya ceritakan. Duh. Gagal fokus lagi deh saya.
Alfa Zone 4: Stand Up Comedy
Ceritanya,
biar kekinian, saya stand up dong sebelum pelajaran di mulai. Haha. Saya juga
nggak tau kenapa memilih stand up dari segala macam cara yang bisa dilakukan di
alfa zone. (sebelumnya, saya sempat berfikir buat baca puisi atau pidato, tapi
nggak jadi karena kayaknya kurang cocok). Parahnya, stand up comedy mungkin
cocok untuk alfa zone dan anak-anak jadi hepi sebelum pelajaran. Tapi,
nyatanya, saya yang tidak cocok untuk melakukan stand up comedy.
Yang
tahu saya, pasti tau kalau saya terbiasa berbicara formal cenderung puitis
karena saya sukanya baca puisi dan novel, sambil dengerin najwa shihab
wawancara. Kan nggak ada lucu-lucunya. Jadinya, anak-anak ketawanya ketawa Ha
Ha Ha Ha Ha (kayak yang dilakukan penonton Indonesian idol waktu ngatawain joke
nya judges) Duh.
Alfa Zone 5: Games
Ini
adalah kegiatan paling gatot sepanjang saya menerapkan alfa zone di proses
pembelajaran. Tepuk tangan, jongkok berdiri, lempar-lemparan kertas, tebak
gambar, ternyata tidak bisa memperbaiki mood mereka setelah mereka belajar
sebelumnya (karena pelajaran sayaa tidak pada jam pertama). Mereka justeru
mengeluh capek, letih, dan malas ketika saya minta mereka berdiri atau
menirukan gerakan. Oke, kalau mereka malas bergerak, saya ajak mereka games
konsentrasi, acak kata, games berpasangan. Tanpa mereka harus beranjak dari tempat
duduk mereka. Tapi mendengar kata games saja sudah malas. Saat saya tanya
kenapa, karena pelajaaran sebelum saya sudah main game. Duh, iya kan gurunya
banyak bukan Cuma saya saja. Hihi
Alfa Zone 6: Bola dan Pijit
Setelah
belajar beberapa bulan dengan menerapkan berbagai bentuk Alfa Zone, akhirnya
akhir-akhir ini saya kembali menemukan wajah bahagia mereka sebelum pelajaran.
Suara tawa mereka itu meaningful. Penuh maakna; membahagiakan saya juga.
Ternyata anak-anak SMP yang belum sepenuhnya dewasa, tapi bukan kanak-kanak
lagi ini unik. Mereka tidak mau lagi dianggap anak-anak, walaupun mereka masih
sering bertingkah seperti anak-anak; gendong-gendongan, lari-larian,
tendadng-tendangan. Akhirnya, saya buat bola yang ada mufrodatnya kemudian saya
minta mereka saling lempar, kemudian menebak mmufrodat (kkosaa kata) yang ada
di bola itu. EFEKTiF. Yay. Anak-anak
bahagia karena bisaa bergerak bebas –sebebas melampar bola kepadda kawannya,
atau kepada saya- sambil tetap
mengingat-ingat kosa kata yang tertulis di bola.
Setelah
itu, mereka saya minta untuk pijit-pijitan secara bergantian sambil menghitung
dengan bahasa arab. Menghitungnya bukan satu dua tiga, tapi bilangan loncat
tiga dihitung mundur dari 30, 27, dan seterusnya. Alhamdulillaah. Saya merasa
alfa zone yang saya lakukan hari ini sesuai dengan harapan. Yuhuiiii.
Komentar
Posting Komentar