Ngobrolin Poligami di Siang yang Panas

Hai. Tulisan ini ditulis setelah ada video yang ngetrigger saya, yakni video tentang poligami. One of the most popular and sensitive issue in my country, beloved Indonesia.

Video yang saya lihat tadi adalah tentang kehidupan keluarga poligami yang adem ayem rukun. Istri pertama dan keduanya saling kerja sama, anak-anak juga bahagia.

Di video itu pula disajikan kesaksian pelaku poligami, alasan-alasan mereka melakukan hal itu. Ada yang beralasan memperbanyak wanita di surga, mencetak generasi Islam yang banyak, menyejahterakan kehidupan wanita, dan ada yang beralasan kalau poligami itu lebih mulia daripada 'jajan' diluar. 

Terus alasan istri pertama memperbolehkan suami poligami. Karena mau berjihad di jalan Allaah, mereka bilang kalau rasa cemburu yang datang karena poligami pahalanya sama dengan syahidnya orang lelaki yang terbunuh di medan perang. Terus ada juga yang berpendapat masalah kesehatan, serta masalah kecenderungan lelaki akan memiliki 'hasrat' lagi terhadap lain jenis (dan selain isterinya) setelah ia menikah. 

Kemudian alasan istri kedua mau dinikahi oleh suaminya adalah karena kesalehan agama, kecukupan finansial, dan kebaikan isteri pertama mau 'membagi' suaminya kepada wanita lain.

Astaghfirullooooh.

Kalau kita perhatikan, sebenarnya alasan-alasan tersebut tidak buruk sama sekali. Dari pernyataan mereka, kita bisa belajar, melihat segala sesuatu dari baik-baiknya saja. Di sisi lain, menurutku, para pro-poligami, terutama para wanita itu tidak berpikir panjang terlebih dahulu. Kenapa? Ada rasa pada manusia yang sakit, yang akan dirasakan dalam kurun waktu yang lama, bahkan seumur hidup. 

Lagi, perasaan dan perilaku manusia, siapa yang akan menjamin ia akan sama terus setiap waktu? Pasti akan ada perubahan dalam berperasaan dan bersikap. Jadi, memang harus sangat amat mempertimbangkan segala sesuatu sebelum melakukan. But, just thinking lo yaa.. jangan overthinking. Dipikirkan sewajarnya aja.

Kalau tentang pendapatnya pelaku poligami, i can't accept it. Kalau mau memuliakan wanita, caranya itu dengan menyayangi, give her nonmaterial affection yang banyak. Memuliakan wanita seyogyanya dengan menjaga perasaannya. Memahami sensitivitasnya yang kadang-kadang berlebih. Bukan justeru membiarkannya merasakan cemburu.

Nah, kalau tentang alasan istri pertama, saya belum pernah baca perbandingan orang mati syahid dan orang cemburu karena poligami, baik di Al-Qur'an maupun di Hadits. Yang aku pernah baca ialah, Allah membatasi pernikahan poligami itu menjadi 4 isteri dengan syarat adil, kalau nggak bisa adil, fawahidatan (satu saja). Dan yang paling favorit saya adalah surat yang sama, An-Nisa' : 129, bahwa "kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [An-Nisa: 129]"

Maha benar Allah yang Maha Agung dengan Segala FirmanNya.

Sedihnya banget, setelah melihat video itu, saya merasa, kalau lelaki si pelaku poligami itu menganggap pikiran para isterinya bagaikan komputer yang bisa disetting dan diprogram untuk bisa menerima poligami. Hal tersebut tersirat dari kalimat wawancara yang ditampilkan. Mereka bertiga (suami dan dua isterinya) kerap mengulang kalimat yang sama. Haduhhh

Setelah segala sesak yang saya rasakan melihat video itu, saya ingin bilang kalau surganya Allah itu penuh keindahan dan jalan menujunya itupun banyak. Kita sebagai manusia dikasih pilihan untuk menujunya. Dan pilihan merasakan sakit itu bukan pilihan. Surga adalah tempat yang baik. Setiap yang baik pasti mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan di hati. Kalau masih ada kesakitan atau ketidaknyamanan di hati, berarti masih ada yang perlu dibenarkan. Islam itu kebaikannya di dunia dan akhirat. Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah.

Mari lebih bijak dalam mengambil keputusan, apalagi menyangkut kehidupan dunia dan akhirat. Kita hidup hanya sekali, semoga bahagia selalu menyertai. 

Sampai jumpa.





Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Riset: Pengertian, Ruang Lingkup, Tujuan, dan Manfaat bagi Peserta Didik MTs N 1 Pemalang