Postingan

Refleksi Tahun Ajaran Baru 2019/2020

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kutipan di atas merupakan UU no 20 tahun 2003 Bab II Pasal 3 tentang fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Dari kutipan di atas, lalu saya berpikir, bagaimana seorang guru bisa mewujudkan tujuan yang sebegitu tinggi? Kapasitas seperti apa yang harus dimiliki seorang guru untuk membentuk anak-anak bangsa menjadi insan kamil sesuai amanat undang-undang? “ambil es teh, setelahnya diminum, lalu ambil baju dari jemuran untuk disetrika (nggak nyambung sih, but I did those all thing while thinking). Dalam benak saya, terbayang ing ngarsa sing tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri...

Bahagia Terlebih Dahulu atau Menikah Terlebih Dahulu?

Tulisan ini ketrigger sama video yang aku tonton di yutub (sengaja ditulis demikian hehe) tentang menikah tua vs menikah muda. Dalam video itu, kita disuguhkan tayangan mengenai pandangan orang-orang yang menikah muda (usia 20-22) dan orang-orang yang menikah di usia tua (29-32). Berarti saat menulis tulisan ini aku masih aman lah yaa. Ehehe. Berbagai alasan yang mereka kemukakan kenapa menikah pada usia tersebut, seperti factor lingkungan, perasaan mampu menafkahi, tidak ingin hidup sendiri, bagiku adalah alasan yang masuk akal dan sah untuk kemudian memutuskan untuk menikah. Plus minus kehidupan yang dirasakanpun terdengar menarik di telingaku. Seperti, orang-orang yang menikah muda menjadi lebih terbatas bergaul dengan komunitasnya, tapi bisa memiliki anak pada usia yang muda sehingga bisa semaksimal mungkin menafkahi anak, belum terlalu tua ketika anak sudah besar sehingga bisa mengerti dengan dunia anak. Nah, bagi orang-orang yang menikah di usia yang lebih...

Mengelola Rasa Empati

Setelah lama galau ingin menulis tentang apa, akhirnya saya memilih tema ‘empati’ yang bagi banyak orang dirasa begitu dibutuhkan, tapi bagi saya terkadang terasa merepotkan. Sebelumnya, saya bukan sepercaya diri itu sehingga saya menyebut diri saya orang yang mudah berempati. Beberapa teman yang setiap hari   bergaul bersama saya yang mengatakan hal tersebut. Kata mereka, saya yang mudah menangis karena hal-hal kecil adalah alasannya. Lalu, saya mencari tahu lebih lanjut tentang empati. Kemudian, dari hasil baca dan menonton beberapa video, saya simpulkan bahwa empati ialah perasaan bisa merasakan perasaan orang lain, benda, hewan, dan makhluk lain. Kemudian, saya nonton video dari salah satu channel youtube favorit saya, yaitu Vice Indonesia . Di sana saya melihat banyak orang dengan tingkat empati yang tinggi terhadap banyak hal. Bukan hanya orang lain, tetapi benda-benda di sekitar mereka. Kalau ada hewan sakit, mereka ikut merasa sakit dan sebagainya. Lalu, saya ber...

ATASI PEDOFILIA, ISLAM AJARKAN PENDIDIKAN SEKS (2)

Pendidikan Seks dalam Kacamata Islam             Dalam Islam, pendidikan seks merupakan bagian dari pendidikan akhlak yang berdasar pada sumber hukum Islam, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits.             “Dari Abu Hurairah, bahwasnya Rasulullah saw. ditanya : Apakah yang banyak memasukkan orang ke dalam surga? Rasul menjawab : “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” Dan ditanya : Apakah yang banyak memasukkan orang ke dalam neraka? Rasulullah menjawab : Mulut dan faraj.” (H.R. Tirmidzi).             Pembaca yang budiman, dari hadits ini tersirat bahwa pendidikan seks yang merupakan pendidikan akhlak adalah salah satu amalan yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga. Diperkuat lagi dengan jawaban Rasulullah yang kedua, bahwasanya apabila kita bisa menjaga faraj kita, makan kita telah terhindar dari hal ya...

ATASI PEDOFILIA, ISLAM AJARKAN PENDIDIKAN SEKS (1)

Kasus Pedofilia di Indonesia Tertinggi di Asia             Pedofilia. Sebuah kata yang akhir-akhir marak menghiasi media dan menjadi konsumsi publik di Indonesia. Satu persatu kasus pedofilia di Indonesia mulai terkuak. Terakhir, polisi menagkap Ahmad Sobadri alias Emon, 24 tahun karena menyodomi 73 bocah laki-laki di Sukabumi. Berita itu merupakan berita yang memprihatinkan, mengingat belum redanya pemberitaan mengenai pelecehan seksual di Jakarta Internasional School. Para predator – sebutan untuk pengidap pedofilia—ini tidak tanggung-tanggung dalam menjalankan aksinya. Mengapa saya mengatakan hal tersebut? Sebagaimana yang dimuat dalam koran elektronik TEMPO.CO bahwasanya korban dari satu pelaku bisa berjumlah 73 orang.             Berdasarkan catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang juga dimuat pada halaman yang sama, dinyatakan bahwa 2012 jumlah korban a...

Ngobrolin Poligami di Siang yang Panas

Hai. Tulisan ini ditulis setelah ada video yang ngetrigger saya, yakni video tentang poligami. One of the most popular and sensitive issue in my country, beloved Indonesia. Video yang saya lihat tadi adalah tentang kehidupan keluarga poligami yang adem ayem rukun. Istri pertama dan keduanya saling kerja sama, anak-anak juga bahagia. Di video itu pula disajikan kesaksian pelaku poligami, alasan-alasan mereka melakukan hal itu. Ada yang beralasan memperbanyak wanita di surga, mencetak generasi Islam yang banyak, menyejahterakan kehidupan wanita, dan ada yang beralasan kalau poligami itu lebih mulia daripada 'jajan' diluar.  Terus alasan istri pertama memperbolehkan suami poligami. Karena mau berjihad di jalan Allaah, mereka bilang kalau rasa cemburu yang datang karena poligami pahalanya sama dengan syahidnya orang lelaki yang terbunuh di medan perang. Terus ada juga yang berpendapat masalah kesehatan, serta masalah kecenderungan lelaki akan memiliki 'hasrat...

Cara Menjadi Bahagia

Bahagia. Sebuah kalimat sederhana yang menjadi impian umat manusia. Bagaimana menjadi bahagia? Sudahkah kita berbahagia? Sanggupkah aku membuatmu bahagia? *uhuy* Kekata yang kerap kali menjadi pertanyaan dalam benak. Bahagia, depend on my opinion , adalah sebuah kata dengan subjektifitas mutlak sehingga tidak bisa didefinisikan secara global. Bahagia bagi setiap orang berbeda. Ada yang mengartikan bahagia sebagai perasaan yang didapat ketika mencapai suatu tujuan, ketika mendapat berita baik, ketika menyelesaikan suatu tugas, atau ketika bertemu seseorang, dan ribuan definisi bahagia lainnya. Bahagia bisa menjadikan hati seseorang berbunga-bunga,wajah merona, bibir senyum sepanjang hari, bisa juga melelehkan airmata karena bahagia yang dirasa teramat sangat. Bahagia bagi beberapa orang ialah kesyukuran yang mendalam sehingga ekspresi bahagia itu hanya bisa dirasa olehnya saja, tidak tampak secara kasat mata. So , beberapa hari lalu, seseorang bertanya kepada saya, bagaima...